“Sumba The Megalithic Island” sebagai Strategi Komunikasi Pariwisata Sumba

Updated: Jan 11, 2021

Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 mdpl). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat.

Dalam beberapa tahun terakhir Sumba menjadi perbincangan sebagai destinasi pariwisata baru di Indonesia, memiliki obyek wisata menarik mulai dari kampung adat, pantai, bukit, danau, persawahan, air terjun dengan cirikhas dan keunikannya masing-masing.



Ada dua karya spektakuler ‘masterpiece’ Warisan leluhur yang diwariskan kepada generasi Sumba yaitu Tenun Ikat dan Tradisi Megalitik, keduanya merupakan identitas budaya dan jatidiri orang Sumba yang sampai saat ini masih terjaga dan dijalankan oleh masyarakatnya. Tenun ikat merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba, mereka dengan setia selalu mengenakan Tenun ikat dimanapun mereka berada baik itu dirumah, dikampung bahkan pada acara-acara resmi lainnya. Kelestarian Tenun ikat dapat terus terjaga karena Tenun ikat adalah bagian dari kehidupan masyarakat Sumba sehari-hari, sejak bayi (baru lahir) hingga wafatnya Orang Sumba dibalut dengan tenun ikat.


Tradisi Megalitik Sumba terlihat dari Bebatuan yang terpajang didepan rumah atau di kampung-kampung adat di Sumba mulai dari ujung timur hingga ujung barat Pulau Sumba, mulai dari ujung utara hingga ujung Selatan Pulau Sumba kita akan dengan mudah menemukan batu-batu besar megalitik yang fungsi utamanya adalah tempat peristirahatan terakhir para leluhur, Masyarakat Sumba sangat menghargai Leluhur mereka yang dibuktikan lewat prosesi pemakaman orang Sumba, karena Masyarakat Sumba meyakini siapa yang menghargai kematian maka ia Adalah orang yang sangat menghargai kehidupan.



Peluang pengembangan sektor pariwisata Sumba sangatlah besar karena selain potensi alam yang dimiliki, masyarakat Sumba Juga memiliki Tenun Ikat dan Tradisi Megalitik yang menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Pariwisata saat ini telah menjadi fenomena sosial dan ekonomi yang menarik, dalam beberapa dekade terakhir pariwisata mengalami pertumbuhan terus-menerus sehingga berhasil menyumbangkan devisa pada negara. Pariwisata mendukung sektor ekonomi untuk tumbuh dan berkembang. Pariwisata modern yang sedang kita alami saat ini terkait erat dengan pengembangan usaha-usaha ekonomi, komunikasi yang mempopulerkan destinasi-destinasi baru. Dinamika ini berpotensi menjadi pendorong utama bagi kemajuan sosial ekonomi suatu negara, daerah ataupun kawasan. Kemajuan usaha-usaha pariwisata telah sama atau bahkan melampaui dari pada aspek ekspor minyak suatu negara, produk makanan atau mobil. Pariwisata telah menjadi ‘Pemain Utama’ dalam perdagangan internasional bahkan dibeberapa negara Pariwisata menjadi sumber pendapatan utama negara.


Mengembangkan pariwisata modern memerlukan usaha-usaha memasarkan destinasi secara terpadu dan terintegrasi. Salah satu yang paling penting didalam pemasaran pariwisata adalah brand destinasi, dimana muatan-muatan komunikasi menjadi penting didalam brand tersebut sebagai representasi dari sebuah destinasi yang dipublish kepada masyarakat domestik maupun masyarakat internasional. “Sumba The Megalithic Island” dipandang sebagai brand destinasi yang cocok untuk pariwisata Pulau Sumba memasuki industri ekonomi pariwisata, berkompetisi sebagai destinasi kawasan sehingga mampu menjadi salah satu pendorong ekonomi kawasan, mendorong pertumbuhan lapangan kerja sekaligus mengembangkan industri kreatif sebagai penghubung antara masyarakat dengan industri pariwisata.



Dari sisi wisatawan dalam beberapa tahun terakhir dapat ditemukan kecendrungan dimana motivasi kegiatan berwisata pada masyarakat posmodern adalah refresing, rekreasi, gaya hidup dan aktualisasi diri. Data wisatawan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur (2018) menunjukan sebanyak 34.719 wisatawan lokal dan 1.746 wisatawan internasional berkunjung ke Pulau Sumba, tentu jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sumba masih dapat ditingkatkan dimasa depan, karena pada tahun yang sama (2018), jumlah wisatawan di Indonesia ada 15.806.191 dan Bali sebagai ‘ibukota pariwisata Indonesia’ dikunjungi 6.060.473 Wisatawan, jika Sumba menyerap 1% saja dari jumlah kunjungan wisatawan ke Bali maka setidaknya ada 60.000 wisatwan yang berkunjung ke Pulau Sumba, Tentu 60.000 wisatawan tersebut adalah wisatawan dengan segmen terpilih (quality tourism), kita mengharapkan mereka adalah wisatawan yang tertarik pada kebudayaan, tradisi, dan ingin merasakan kehidupan bersama masyarakat adat di Sumba, sebagian lagi adalah wisatawan yang ingin berpetualang menikmati keindahan bentangan alam Sumba anugerah dari Sang Pencipta.


Data lain menunjukan bahwa saat ini wisatawan didominasi oleh generasi Y (millenial) dan generasi Z, dimana usia mereka saat ini dibawah 35 tahun. Generasi Y dan Z adalah generasi digital life style dimana mereka sangat akrab bahkan bergantung pada teknologi, segala hal mulai dari mencari informasi hingga melakukan transaksi keuangan atau berbelanja dilakukan melalui smartphone, lihat saja bagaimana cara mereka memesan tiket, membeli makanan, mengabadikan momen atau pemandangan alam yang indah melalui kamera smartphone hingga menguploadnya pada media sosial mereka. Melihat fenomena digital life style wisatawan seperti diungkap sebelumnya, maka diperlukan strategi komunikasi yang menerapkan pola yang sama sehingga dapat diterima oleh segmen wisatwan muda ini, yang mema